Menjadi Sastrawan: Antara Kopi, Puisi, dan Dompet yang Koma
Setiap kali mendengar kata "sastrawan", bayangan yang muncul di kepala anak muda zaman sekarang biasanya sama: kakek-kakek berjanggut putih, pakai kemeja flanel lusuh, kacamata minus tebal yang melorot di hidung, sambil duduk di sudut kafe remang-remang menatap hujan dengan tatapan hampa. Seolah-olah, syarat sah jadi sastrawan itu wajib tua, wajib puitis sampai taraf membingungkan, dan minimal pernah patah hati seratus dua belas kali.
Tapi, memangnya sastrawan harus tua dulu baru valid? Kalau harus nunggu rambut beruban dan keriput muncul di dahi, keburu tren tulisan di media sosial berganti sepuluh kali. Sastrawan itu sebenarnya cuma sebutan keren buat orang yang pandai menata kata untuk merapikan isi kepala dan perasaan manusia yang sering kali berantakan. Tidak ada batas usia minimal, tidak perlu sertifikat khusus, dan tidak ada tes fisik lari delapan belas putaran. Siapa saja yang berani jujur menuangkan isi pikirannya lewat tulisan—entah itu puisi, novel, atau bahkan utas panjang di media sosial yang bikin pembacanya mengangguk-angguk—pada dasarnya sedang meracik sastra.
Masalah utamanya bukan di umur, melainkan di urusan logistik harian. Pernahkah kamu melihat lowongan kerja di situs pencari kerja yang bunyinya begini: "Dibutuhkan Segera: Sastrawan Junior. Kualifikasi: Pria/Wanita, menguasai metafora level dewa, sanggup melamun 4 jam sehari, sanggup bertahan hidup dengan kafein, pengalaman minimal 2 tahun puitis"? Tentu saja tidak ada. Sastra itu bukan profesi kantoran yang punya gaji pokok, tunjangan hari raya, apalagi asuransi kesehatan dari perusahaan. Tidak ada bos yang menepuk bahumu setiap tanggal 25 sambil bilang, "Kerja bagus, puisimu bulan ini berhasil mencapai KPI!"
Di sinilah keraguan besar anak muda mulai muncul, terutama buat yang bercita-cita ingin tajir melintir dari jalur tulisan. Di dunia nyata, bayangan jadi penulis kaya raya bergaya bak selebritas dunia sering kali bertabrakan dengan kenyataan lapangan. Prosesnya sering kali diawali dengan perjuangan berdarah-darah: menulis berbulan-bulan sampai kepala nyaris pecah, mengirim naskah ke penerbit, lalu menunggu balasan dengan cemas hanya untuk mendapati royalty buku pertama cuma cukup buat beli mi instan satu dus dan kopi kekinian dua gelas. Kalau mau tajir melintir secepat kilat, jadi sastrawan jelas bukan jalur cepat; mungkin lebih masuk akal buka usaha jualan gorengan di depan minimarket yang perputarannya cepat dan pasti.
Namun, di balik keraguan finansial dan stigma bahwa sastra itu berat serta kuno, anak muda sebenarnya punya modal paling mahal: keberanian untuk tidak jaim. Sastra zaman sekarang tidak lagi melulu soal bahasa langit yang sulit dipahami orang awam. Sastra bisa hadir dalam kalimat-kalimat sederhana yang menyentil realita kehidupan sehari-hari, tentang susahnya cari kerja, kebingungan menentukan arah hidup, atau sekadar ironi kehidupan di kota besar.
Jadi, apakah sastrawan harus tua? Jelas tidak. Apakah ada lokernya? Tidak ada, kamu harus membuka "lowongan" itu untuk dirimu sendiri. Dan apakah bisa bikin kaya raya? Yah, kalau kaya materi mungkin butuh waktu, keberuntungan, dan konsistensi ekstra tinggi. Tapi kalau kaya akan gagasan, sudut pandang, dan kemampuan menertawakan hidup yang kadang agak ngawur ini, sastrawan muda adalah juaranya. Lagi pula, siapa tahu dari tulisan yang awalnya cuma iseng dan jujur itu, suatu hari nanti dompetmu ikut menyusul ketebalan buku-buku yang kamu tulis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar